Kamis, 27 November 2014

Daftar nama Bupati Bangkalan (Tahun 1882-Sekarang)

Bangkalan, Kabupaten/kota di ujung barat Madura ini punya sejarah tersendiri untuk pemimpin daerahnya. Beberapa juga keturunan raja atau bahkan keturunan Kyai. 12-12-2012 akan menjadi hari bersejarah, dimana akan dipilih kembali Bupati Bangkalan untuk periode 2013-2018 setelah dua periode yang lalu dipegang RKH. Fuad Amin. Meskipun pada saat itu terjadi pertikaian besar-besaran yang banyak berakibat pada ditutupnya jalan menuju kota Bangkalan yang berlangsung selama beberapa hari sebelum pilkada berlangsung. Berikut adalah daftar nama-nama yang sudah pernah menjabat Bupati Bangkalan mulai dari tahun 1882.
Bupati Bangkalan ke-1 : Pangeran Adiningrat (1882-1905)
Bupati Bangkalan ke-2 : R.A.A Suryonegoro (1905-1918)
Bupati Bangkalan ke-3 : R.A A Suryo Winoto (1918-1948)
Bupati Bangkalan ke-4 : R.A Moh. Sis Cakraningrat (1948-1956)
Bupati Bangkalan ke-5 : R.A Moh Ruslan (1956-1957)
Bupati Bangkalan ke-6 : R.A.Abd. Karim Brojokusumo (1957-1959)
Bupati Bangkalan ke-7 : R.P Moh. Nur (1959-1965)
Bupati Bangkalan ke-8 : Drs. Abd. Mannan (1965-1969)
Bupati Bangkalan ke-9 : R.P Machmud Surodiputro (1969-1971)
Bupati Bangkalan ke-10 : Jacky Sudjaki (1971-1982)
Bupati Bangkalan ke-11 : Drs. Sumarwoto (1982-1988)
Bupati Bangkalan ke-12 : Drs. Abdul Kadir (1988-1991)
Bupati Bangkalan ke 12a? – : Drs. Ernomo (PTHJ) (1991-1993)
Bupati Bangkalan ke-13 : M. Jakfar Syafei (1993-1998)
Bupati Bangkalan ke-14 : Ir. H. Moh. Fatah,MM (1998-2003)
Bupati Bangkalan ke-15 : RKH. Fuad amin imron (2003-2012)

Bupati Bangkalan ke-16:? R. Muh Makmun Ibnu Fuad (Periode 2013-2018)



TandukMajeng lagu daerah Madura

Tanduk Majeng atau Tondu’ Majâng (Nikmatnya mencari ikan) adalah lagu daerah penduduk Madura yang menceritakan kehidupan masyarakat Madura sebagai seorang nelayan. Kehidupan masyarakat  sebagai nelayan sangat keras karena harus menghadapi bahaya di laut (atemmo bhabhâjâ), mempertaruhkan nyawa (bhândhâ nyabâ), hidup berbantal ombak dan berselimut angin (abhantal omba’ sapo’ angèn), untuk menghidupi keluarga mereka.
Secara filosofis, lagu ini merupakan kiasan yang bermakna bahwa perjuangan orang Madura yang mayoritas nelayan, terus berjuang menangkap ikan untuk menghidupi keluarga mereka meskipun nyawa taruhannya. Lagu ini menggambarkan betapa gembiranya keluarga nelayan setelah melihat layar putih dari kejauhan, pastinya itu keluarga mereka yang telah pergi berhari–hari dan kini pulang membawa ikan segar.

Lirik asli (Bahasa Madura)
Ngapotè wak lajârâh è tangalè,
Rèng majâng tantona lah padâ molè
Mon è tengguh deri abid pajâlânnah,
Masè benyak’ah onggu le ollèna

Duuh mon ajâlling odiknah oreng majângan,
Abental ombek asapok angèn salanjânggah

Olè...olang, paraonah alajârâh,
Olè...olang, alajârâh ka Mâdurâ

Rèng majâng bennya’ ongggu bâbâjâna,
Kabileng alako bendhe nyabânah.

Olè...olang, paraonah alajârâh,
Olè...olang, alajereh ka Mâdurâ

Translate Bahasa Indonesia

Layar putih mulai kelihatan
Nelayan tentulah sudah pada pulang
Kalau dihitung dari lamanya perjalanan,
Tentu sangat banyak perolehannya

Duuh kalau dilihat kehidupan pencari ikan,
Berbantal ombak berselimut angin selamanya (sepanjang malam)

Olè... olang, perahunya berlayar,
Olè... olang, berlayar ke Madura

Nelayan banyak sekali hambatannya
Dapat dikatakan bekerja bermodalkan nyawanya

Olè... olang, perahunya berlayar,

Olè... olang, berlayar ke Madura

Rabu, 26 November 2014

Makam Syarifah Ambami

asal usul komplek pemakaman Aer Mata berasal dari kisah Pangeran Cakraningrat I (Raden Praseno), yang memerintah Pulau Madura dalam kurun waktu sekitar tahun 1624-1648. Saat masa pemerintahan Cakraningrat I sendiri, Madura lebih banyak dikendalikan dari Mataram. Pasalnya, saat itu, tenaga, pikiran, dan kepiawaian Cakraningrat I juga dibutuhkan oleh Sultan Agung, selaku pimpinan Mataram.
"Melihat keadaan yang seperti itu, membuat Syarifah Ambami sedih. Siang malam menangis, meratapi dirinya yang ditinggal sang suami," ujar Slamet, yang juga merupakan penulis buku Makam Aer Mata: Makam Kanjeng Ratoe Iboe Syarifah Ambami 1546-1569. Saat hatinya gelisah dan dirundung kesedihan, menurut Slamet, akhirnya Syarifah Ambami sendiri memilih untuk menyendiri di tempat yang sepi (bertapa). Dalam masa pertapaan tersebut, Syarifah memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar kelak tujuh turunannya dapat ditakdirkan menjadi penguasa pemerintahan Pulau Madura.
Usai bertapa dan berfirasa

t, jika yang diminta bakal terkabul, Syarifah pun memilih pulang ke Kabupaten Sampang. Selang beberapa tahun kemudian, Pangeran Cakraningrat I datang dari Mataram, bergegas pergi mencari Syarifah yang kemudian mendapat gelar Ratu Ibu. Saat bertemu dengan Cakraningrat I, perasaan Ratu Ibu berbunga-bunga, bahkan menceritakan kalau dirinya habis bertapa dan meminta agar tujuh turunannya menjadi pemimpin Madura. Mendengar cerita tersebut, Cakraningrat I sendiri bukan malah bangga, sebaliknya dia kecewa karena cuma berdoa tujuh turunan saja.
Pasca mendengar cerita dari Ratu Ibu, akhirnya Cakraningrat I memutuskan untuk kembali lagi ke Mataram. "Nah, mungkin merasa bersalah pada sang suami, Ratu Ibu sedih, memilih kembali untuk bertapa di tempat yang sama," tegas Slamet. Saat menjalani masa pertapaan, yang diyakini oleh warga sekitar bertempat di Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Ratu Ibu terlihat bersedih dan terus menerus menangis. Bahkan, dalam cerita dari warga sekitar, air mata yang keluar sampai membanjiri tempat pertapaan beliau. Itu terjadi hingga beliau wafat dan dikebumikan di tempat pertapaannya.

Sampai sekarang tempat pertapaan tersebut, menjadi situs bersejarah yang oleh warga sekitar dinamakan Makam Aer Mata Ratu Ibu, terletak di Dusun/Desa Buduran, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan dan hingga kini makam itu masih ada dan banyak para peziarah yang berkunjung ke makan ini untuk melihat dan mendoakan Syarifah Ambami.

Budaya Madura Beda dengan Jawa

Madura adalah nama pulau yang terletak di sebelah utara Jawa Timur. Pulau Madura ini besarnya kurang lebih 5.250 km2 (lebih kecil dari pulau Bali), dengan penduduk sebanyak 4 juta jiwa. Madura dibagi menjadi 4 kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Bangkalan berada di ujung paling barat pulau Madura dan saat ini telah dibangun jembatan terpanjang di Indonesia, jembatan Suramadu (Surabaya-Madura), merupakan salah satu kawasan perkembangan Surabaya, serta tercakup dalam Gerbangkertosusila. Dan uniknya Sumenep yang merupakan salah satu kabupaten di Madura selain terdiri dari wilayah daratan, terdiri pula dari kepulauan yang berjumlah 126 pulau.
Meski kebanyakan wilayah yang termasuk kawasan Madura adalah kepulauan, namun Madura tetap memiliki kebudayaan tersendiri. Budaya Madura berbeda dengan budaya Jawa. Kebudayaan Madura yang bersumber dari kraton, sedikit banyak terpengaruh oleh kebudayaan kraton Jawa. Baik dalam bidang seni, tari, macopat, bahasa, ataupun gending-gending gamelan. Namun hal ini bukan berarti Madura tidak memiliki akar budaya sendiri. Perbedaan yang cukup mencolok dapat terlihat dalam kehidupan keseharian, sifat orang Madura yang lebih egaliter dan terbuka, berbeda dengan sifat orang Jawa yang mempunyai sifat “ewuh pakewuh“. Dalam hal mencari rezeki pun, orang-orang Madura sejak masa lalu sudah berani merantau ke luar pulau. Hal ini terbukti dengan banyaknya orang Madura yang tersebar hampir di seluruh penjuru Negeri bahkan sampai-sampai di luar negeri pun ada.
Masyarakat Madura dikenal juga memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal, dan stigmatik. Istilah khas disini menunjukkan bahwa entitas etnik Madura memiliki kekhususan-kultural yang tidak serupa dengan etnografi komunitas etnik lain. Kekhususan-kultural ini antara lain tampak pada ketaatan, ketundukan, dan kepasrahan mereka kepada empat figur utama dalam kehidupan yaitu Buppa, Babu, Guruh, ban Ratoh (Ayah, Ibu, Guru dan Pemimpin Pemerintahan). Selain itu pula Madura masih memiliki beberapa nilai budaya yang perlu untuk dilestarikan dan dikembangkan. Diantaranya adalah ungkapan-ungkapan seperti: “Manossa coma dharma“, ungkapan ini menunjukkan keyakinan akan kekuasaan Allah Yang Maha Kuasa. “Abhantal ombha’ asapo’ angen, abhantal syahadad asapo’ iman“, menunjukkan akan berjalin kelindannya budaya Madura dengan nilai-nilai Islam. ” Bango’ jhuba’a e ada’ etembang jhuba’ a e budi “, lebih baik jelek di depan daripada jelek di belakang. “Asel ta’ adhina asal“, mengingatkan kita untuk tidak lupa diri ketika menjadi orang yang sukses dan selalu ingat akan asal mula keberadaan diri. “Lakonna lakone, kennengngana kennengnge” sama halnya dengan ungkapan “The right man in the right place“. “Pae’ jha’ dhuli palowa, manes jha’ dhuli kalodu“, nasehat agar kita tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya berdasarkan fenomena. Kita harus mendalami akar permasalahan, baru diadakan analisis untuk kemudian menetapkan kebijakan. “Karkar colpe’“, bisa dikembangkan untuk menumbuhkan sikap bekerja keras dan cerdas, apabila kita ingin menuai hasil yang ingin dinikmati.
Keunikan yang lain dari budaya Madura adalah pada dasarnya dibentuk dan dipengaruhi oleh kondisi geografis dan topografis masyarakat Madura yang kebanyakan hidup di daerah pesisir, sehingga mayoritas penduduk Madura memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.
1. Kebudayaan Macopat (Mamaca)
Macopat atau juga ada yang menyebutnya dengan mamaca, merupakan kebudayaan madura yang juga bisa dikategorikan berbentuk kesenian. Tembang yang ditulis dengan bahasa jawa ini dilantunkan dengan syair-syair tertentu, atau juga yang dikanal dengan istilah tembeng Biasanya dalam pembacaan macopat ini terkadang diringi dengan alunan musik, dan yang sering dengan menggunakan seruling.
2. Ritual Ojung
Pelaksanaan ritual Ojung dalam bentuknya sejenis permainan yang melibatkan dua orang untuk beradu fisik dengan dilengkapi media rotan berukuran besar sepanjang 1 meter sebagai alat memukul.ritual ini biasanya diselenggarakan agar segera turun hujan dan terhindar dari malapetaka akibat kekeringan musim kemarau.Dan biasanya diiringi dengan musik yang jarang dijumpai di daerah lain yang terdiri dari 3 buah dung-dung (akar pohon siwalan) yang dilubangi di tengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca serta satu alat musik kleningan sebagai pengatur lagu.
3. Kebudayaan Rokat Tase’ (Petik Laut)
Tradisi ” Rokat Tase’ ” dilakukan untuk mensyukuri karunia serta nikmat yang diberikan oleh sang maha pencipta yaitu Allah SWT. Dan juga agar diberikan keselamatan dan kelancaran rezeki dalam bekerja.Ritual atau tradisi tersebut, biasanya dimulai dengan acara pembacaan istighotsah dan tahlil bersama oleh masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama setempat.Setelah itu, masyarakat melepaskan sesaji ke laut sebagai rasa ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Adapun isi dari sesaji itu adalah ketan-ketan yang berwarna-warni, tumpeng, ikan-ikan, dan lain sebagainya. Ritual atau tradisi tersebut disebut ” Rokat Tase’ ” oleh penduduk setempat.

4. Kebudayaan Okol
Okol, istilah warga Madura untuk menyebutkan olahraga gulat tradisional.Tradisi okol biasa dilakukan pada saat musim kemarau berkepanjangan melanda. Namun apabila kita lihat baik dari tujuan maupun pelaksanaannya okol hampir sama dengan kebudayaan ojung
5. Kebudayaan Rokat

Kebudayaan Rokat yang ada di Madura dilakukan dengan maksud jika dalam suatu keluarga hanya ada satu  orang laki-laki dari lima bersaudara (pandapa lema’), maka harus diadakan acara Rokat. Acara Rokat ini biasanya dilaksanakan dengan mengundang topeng (nangge’ topeng) yang diiringi dengan alunan musik gamelan Madura dan sembari dibacakan macopat (mamaca).

Kuliner Sate Madura

Kali ini saya membahas Sate Madura yang terkenal di Nusantara sebagai sate ternikmat sejagad. Tapi memang benar, sate ini serasa lain daripada yang lain. Jika mau membeli sate Madura, tak susah untuk mencarinya, apalagi jika anda berada di kota Bangkalan. Di setiap sudut kota, ada saja yang menjual sate. Namun, jika ingin membuat sendiri juga bisa.
Bahan :
*      5 buah paha ayam atas bawah, ambil dagingnya
*      kecap manis secukupnya
*      20 buah tusuk sate

Bahan pelengkap :
*      5 buah lontong
*      bawang goreng untuk taburan secukupunya

Bahan Sambal Kacang :
*      250 gram kacang tanah kulit, goreng dan haluskan
*      2 buah cabai merah besar, goreng
*      3 buah cabai merah keriting, goreng
*      3 butir kemiri, goreng
*      2 1/2 sendok teh garam
*      4 sendok makan gula merah sisir
*      600 ml air panas
 
Membuat sambal kacang :
Haluskan kacang tanah, cabai merah keriting, kemiri, garam, gula merah dan cabai merah besar. Tuang dengan air dan ratakan kemudian masak hingga matang dan mengental.

Bahan sambal (haluskan) :
*      10 buah cabai merah, rebus
*      8 buah cabai merah keriting, rebus
*      1/85 sendok teh gula pasir
*      1/4 sendok teh garam

Membuat sambal :
Haluskan cabai merah, cabai merah keriting. setelah halus kemudian tambahkan garam dan gula dan diaduk sampai rata.

Cara membuat sate ayam madura asli :

Masukkan/tusukkan daging sate ke tusuk satenya setelah daging itu dibumbui dengan bumbu-bumbu diatas. Kemudia panggang sate hingga matang. Lumuri lagi sate dengan sambal kacang. Sajikan selagi hangat dengan ditemani lontong yang sudah diiris. Gampang kan.